Menikah via Pixabay
Ta’aruf adalah hal yang tidak asing lagi akhir-akhir ini. Sobat Wee, bagi kaum muslim, salah satu hal terpenting dalam fase hidup manusia adalah menikah. Menikah adalah sebuah ikatan suci. Mitsaqan ghalidha. Begitulah bahasa dalam kitab suci. Ya, ikatan yang kuat nan suci yang terucapkan janjinya langsung antara manusia dengan Tuhanya.

Salah satu harapan orang menikah adalah untuk mendapatkan banyak kebaikan kan Sobat Wee? Nah, jika tujuanya baik, maka proses yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut pun paling tidak harus baik. Salah satu yang cara yang ditempuh untuk mencapai itu adalah dengan ta’aruf.

Kita samakan persepsi dulu ya Sobat Wee, karena banyak yang menggunakan istilah ta’aruf dalam beberapa konteks. Ta’aruf yang dimaksud disni adalah proses mengenal calon pasangan yang tujuanya adalah untuk kemantapan jiwa sebelum memutuskan untuk menikah.

Menurut Cahyadi Takariawan, seorang konsultan keluarga asal Yogyakarta, mengatakan bahwa proses ta’aruf syar’i paling tidak memiliki beberapa ciri. Yuk, Sobat Wee kita tengok apa saja ciri tersebut.

  1. Bukan Untuk Memenuhi Kebutuhan Nafsu, Namun Untuk Memantapkan Hatimu
Niat via Pixabay

Sobat Wee ketika ingin ta’aruf, maka motivasi dan niatnya harus lurus. Tidak untuk mencari kepuasaan nafsu dan syahwat yang sudah tidak bisa terbendung. Atau hanya untuk mengisi hati yang kosong. Niat ta’aruf adalah untuk memantapkan hati sebelum menikah. Jadi, dalam perjalanannya tidak akan ada obroloan intens yang tidak ada faedahnya. Semua hal yang dibahas adalah hanya murni mengenal tentang diri, hobi, kesenangan, sifat, karakter, visi dan misi pernikahan, keluarga, dll.

  1. Hanya Untuk Yang Sudah Siap Menikah, Bukan Untuk Mereka Yang Hanya Coba-Coba
Siap Menikah via Pixabay

Jika Sobat Wee merasa belum siap untuk menikah, maka baiknya tidak coba-coba untuk ta’aruf. Siap menikah disini adalah tentunya yang sudah siap lahir dan batin. Sudah siap ilmunya, sudah siap finansialnya, sudah siap hatinya, dan sudah imanya. Proses saling mengenal antara perempuan dan laki-laki yang belum mempunyai kesiapan, maka hal tersebut tidak bisa dikatakan dengan proses ta’aruf. Cahyadi Takariawan mengatakan bahwa salah satu kesiapan menikah salah satunya adalah sudah bisa mendefinisikan kapan akan melaksanakan pernikahan.

  1. Harus Ada Batas Waktu Yang Jelas, Agar Kamu Tidak Digantung
Waktu via Pixabay

Ketidakjelasan dalam proses penantian hanya akan meninggalkan dosa dan maksiat. Terlalu lama berinteraksi biasanya akan membahas sesutau yang seharusnya tidak perlu dibahas. Terlalu lama menunggu juga biasanya akan menimbulkan anggan-anggan yang dipenuhi dengan keburukan (red:syetan). Iih, ngeri ya Sobat Wee. Menunggu tanpa kepastian. Nah, makanya dalam proses ta’aruf syar’i harus jelas waktunya. Maksudnya jelas waktunya adalah bahwa proses ta’aruf akan dilakukan selama berapa hari, berapa pekan, atau bahkan berapa bulan. Tapi ya jangan berbulan-bulan. Intinya ada kejelasan waktu, agar kedua kubu tidak saling menunggu.

  1. Janganlah Berdua, Namun Libatkanlah Pendamping
Tidak Berdua via Pixabay

Nah, ini yang penting Sobat Wee. Kalau ta’aruf dilakukan dengan hanya melibatkan dua orang saja, maka bukan ta’aruf syar’i namanya. Ta’aruf bukanlah ruang untuk bersenang-senang antara laki-laki dan perempuan. Namun, ta’aruf dilakukan salah satunya adalah untuk meraih ridho Yang Maha Kuasa bukan? Makanya harus ada yang mendampingi dan memfasilitasi proses pengenalan tersebut agar tidak hanya berdua-duan saja. Bukankah kalau hanya berdua yang ketiga adalah syetan? Hehehe. Fungsi pendampaing adalah untuk menghindari berdua-duaan, dan memberikan arahan agar proses ta’aruf berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Tentukanlah Prosedur Ta’aruf
Prosedur via Pixabay

Hakikat sebuah proses, maka harus ada prosedur. Waktu dan bagaimana mengisi proses tersebut. Cahyadi Takariawan mencontohkan beberapa contoh aturan prosedur ta’aruf yaitu: kesepakatan waktu dan tempat pertemuan, berapa kali pertemuan, kejelasan agenda dalam setiap pertemuan, mekanisme untuk melakukan klarifikasi dan konfirmasi, kesepakatan bagaimana berkomunikasi lebih lanjut, dll. Ada kejelasan. Jadi Sobat Wee akan punya bayangan kedepannya gimana akan menjalani proses tersebut. Yang syar’i memang selalu jelas dan berusaha untuk tidak memberatkan kedua belah pihak bukan? Dan tentunya tidak meninggalkan status ngantung. Eaaaaa.

  1. Komitmen dengan Adab Syar’i
Komitmen via Pixabay

Apa sih adab syar’i? Singkatnya adalah perilaku yang baik menurut aturan agama. Jadi, jika di dalam ta’aruf ada duduk berdua bareng antara si pihak laki-laki dan pihak perempuan, itu berarti bukan ta’aruf. Jika ada komunikasi saling goda, maka itu juga bukan ta’aruf. Jika ada saling menunjukkan perhatian berlebihan pada si perempuan/laki-laki, itu jelas  bukan ta’aruf.

  1. Hasil Akhir yang Jelas
Akhir yang Jelas via Pixabay

Jreng jreng. Sampailah pada yang terakhir Sobat Wee. Tarik nafas dulu. Hehe. Nah, hasil akhir yang diharapkan adalah adanya kemantapan hati, kepastian, dan keputusan. Apakah mau lanjut atau sudah cukup. Jika kemantapan hatinya mengatakan lanjut, maka proses berikutnya adalah menuju jenjang pernikahan. Namun sebaliknya, jika kemantapan hatinya mengatakan tidak lanjut, maka kedua belah pihak tidak akan meneruskannya ke jenjang pernikahan. Oh ya Sobat Wee, tentu keputusan ini harus dibarengi dengan proses lainya ya. Contohnya solat istikhoroh meminta petunjuk, diskusi dengan orang tua, dan meminta pertimbangan dari orang-orang yang dipercaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.